Serba-Serbi KTT OKI Di Istanbul, Saudi Dan Sekutunya Abai

RedaksiIslam.com –  Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atas inisiatif Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk menyikapi pengakuan Presiden Amerika Serikat (AS) atas Al-Quds (Baitul Maqdis/Yerussalem) sebagai ibu kota Israel telah berlangsung di Istanbul, Turki, Rabu (13/12/2017). Berikut ini beberapa kabar seputar pertemuan puncak luar biasa OKI ini:

  • Sebagian besar saluran TV Arab menayangkan jalannya pertemuan puncak negara-negara Islam mengenai Al-Quds di Istanbul tersebut kecuali Alarabiya dan channel-channel TV Arab Saudi lainnya. Menariknya, saluran Sky News Arabia menayangkan siaran langsung KTT ini sehingga mengindikasikan bahwa saluran ini keluar dari koordinasi aliansi media dan politik Saudi.
  • Pidato ketua otoritas Palestina Mahmoud Abbas menjadi pidato yang terpanjang dan menghabiskan waktu lebih dari satu jam, namun juga paling monoton dan klise. Parahnya, dia tidak menyebutkan kata “muqawamah” (resistensi), atau “intifada” (kebangkitan), dan tidak pula menyinggung kemungkinan pembatalan Perjanjian Oslo. Dia hanya fakus pada kata “mempelajari”, dan mengapresiasi kepedulian Kerajaan Al-Hasyimiyah Yordania kepada tempat-tempat suci serta memuji Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz.
  • Raja Abdullah II dari Yordania menyampaikan pidato singkat yang hanya menghabiskan waktu sekira seperempat jam. Dia memulainya dengan shalawat kepada “Nabi Al-Arabi Al-Hasyimi”, dan menekankan tanggungjawab historis Al-Hasyimiyah atas tempat-tempat suci Islam dan Kristen di Al-Quds. Dalam pidato berbahasa Arabnya itu dia menyelipkan kalimat berbahasa Inggris yang menegaskan bahwa tak ada perdamaian Palestina-Israel tanpa negara merdeka Palestina dengan Al-Quds sebagai ibu kotanya.
  • Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan membuka KTT luar biasa OKI itu dengan pidato berisi pernyataan-pernyataan pedas yang menyebut keputusan Trump soal Al-Quds sebagai “penghargaan”  presiden AS untuk Israel atas semua kejahatan rezim Zionis ini, dan menyebut Israel negara pendudukan dan teroris. Di tengah pidatonya itu tertayang sebuah penggalan video yang merekam adegan puluhan tentara Israel menangkap seorang bocah Palestina.
  • Presiden Iran Hassan Rouhani menyampaikan pidato tertulis yang singkat namun padat dan berisikan imbauan kepada umat Islam untuk tidak berselisih soal Al-Quds. Dia meminta supaya masalah Palestina kembali mengemuka sebagai isu sentral dunia Islam.
  • Para pemimpin negara Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain sama-sama tidak menghadiri KTT OKI Istanbul. Parahnya, negara-negara ini bahkan juga tidak mengirim delegasi tingkat menteri luar negeri masing-masing. Berbeda dengan mereka, hadir dalam KTT ini Emir Kuwait Syeikh Sabah Al-Ahmad Al-Sabah, Emir Qatar Syeikh Tamim bin Hamad Al-Thani, Presiden Sudan Omar al-Bashir, Menlu Oman Sayyid Yusuf bin Alawi, Raja Yordania Abdullah II, Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi), dan Presiden Iran Hassan Rouhani.
  • Kehadiran Menlu Mesir Sameh Shoukry sebagai ketua delegasi negara ini mengundang perhatian karena menandai membaiknya hubungan Mesir dengan Turki.
  • Presiden Iran Hassan Rouhani berada di barisan depan dan mendapat sambutan hangat terutama dari Presiden Erdogan. Delegasi Iran juga melibatkan menlu dan sejumlah pejabat senior Iran lain.
  • Kehadiran Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam KTT ini mengundang perhatian sehingga banyak kamera wartawan berulangkali menyorotnya. Maduro tergolong musuh bebuyutan AS di Benua Amerika Selatan.
  • Suriah tidak mengirim delegasi untuk KTT Istanbul meskipun keanggotaannya dalam OKI tidak dibekukan. Hal ini menandakan bahwa hubungan Suriah dengan Turki belum membaik, atau bisa jadi pemerintah Suriah masih menggantungkan masalah ini pada penyelesaian proses rekonsiliasi Suriah-Turki yang dimotori oleh Rusia dari balik layar, atau menggantungkannya pada kunjungan pejebat Turki ke Damaskus terlebih dahulu.
  • Dalam pose untuk foto bersama usai sidang Presiden Erdogan berdiri di tengah antara Raja Abdullah II dari Yordania dan ketua otoritas Palestina Mahmoud Abbas, sementara di sisi mereka terdapat emir Emir Kuwait Sabah Al-Ahmad Al-Sabah, dan Emir Qatar Tamim bin Ahmad Al-Thani berdampingan dengan Presiden Iran Hassan Rouhani, suatu formasi protokoler yang tentunya mengandung pesan politik tersendiri. (mm/rayalyoum)
SHARE THIS:

Dipersembahkan oleh : RedaksiIslam.com

Bagikan ke teman-temanmu yuk…

Add Comment

close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==